Malawapati

Komunitas Arisan Sampah MAPAK dan TPS 3R Desa Trucuk Seriusi Belajar Mengelola Sampah ke Malang

Malawapati MalawapatiLensa+
Komunitas Arisan Sampah MAPAK dan TPS 3R Desa Trucuk Seriusi Belajar Mengelola Sampah ke MalangKomunitas Arisan Sampah MAPAK dan TPS 3R Desa Trucuk mengikuti studi tiru di TPST 3R Mulyoagung Bersatu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Sabtu (4/7). Foto : dok./ Rinna H.

malawapati.com - Berdasarkan pada data di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro bahwa timbulan sampah tahun 2025 timbulan sampah 134 ton per tahun.

Jumlah sampah tersebut mayoritas berasal dari aktivitas rumah tangga (domestik) yang menyumbang porsi terbesar. Kemudian sampah dari kegiatan komersial seperti toko dan perkantoran, serta sisa kegiatan di fasilitas umum seperti pasar tradisional dan alun-alun kota.

Demi upaya memperkuat tata kelola sampah berbasis masyarakat Pengurus TPS 3R Srawung Makmur Desa Trucuk bersama Komunitas arisan sampah MAPAK (Emak-emak Berdampak) Kecamatan Sukosewu mengikuti studi tiru di TPST 3R Mulyoagung Bersatu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Sabtu (4/7).

Dengan ”Pengelolaan Sampah Berkelanjutan, Gerakan Bersama Pengelolaan Sampah dan Perilaku Hidup Bersih" para peserta mendapat pembelajaran langsung mengenai pengelolaan sampah terpadu, mulai dari sistem pengumpulan, pemilahan, pengolahan, hingga penguatan kelembagaan pengelola TPS 3R.

Mereka juga berdialog dengan pengelola TPST 3R Mulyoagung Bersatu mengenai strategi membangun partisipasi masyarakat agar pengelolaan sampah dapat berjalan secara berkelanjutan.

Kepala Desa Trucuk, Sunoko, mengatakan, kunjungan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar pemerintah desa untuk meningkatkan kapasitas pengelola sampah sekaligus memperkuat budaya pengelolaan sampah di tingkat masyarakat.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada TPST 3R Mulyoagung Bersatu yang telah menerima kami dengan sangat baik. Tujuan kami datang adalah belajar dari praktik yang sudah berhasil agar dapat dikembangkan di Desa Trucuk," ujarnya.

Ia berharap seluruh peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mampu membagikan pengalaman yang diperoleh kepada masyarakat sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.

"Kami berharap ilmu yang diperoleh hari ini dapat diterapkan dan ditularkan kepada masyarakat sehingga mampu mendukung pengelolaan sampah yang lebih baik di Desa Trucuk," katanya.

Perwakilan ExxonMobil, Al Maliki Ukay Sukaya Subqy, menilai studi tiru tersebut merupakan bagian dari komitmen bersama dalam mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan di Kabupaten Bojonegoro.

Ia mengingatkan pada peserta untuk memanfaatkan kesempatan belajar dengan menyerap seluruh pengalaman dan praktik baik yang telah diterapkan di TPST 3R Mulyoagung Bersatu.

Setelah belajar ia berharap pada mereka agar mengimplementasikan pengetahuan tersebut sesuai kondisi dan kebutuhan desa masing-masing. Dan untuk bisa menjaga konsistensi dalam menjalankan aksi lingkungan sebagai bentuk ikhtiar yang dilandasi niat tulus.

"Semoga kegiatan studi tiru ini berjalan sukses dan mampu mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan di Bojonegoro menjadi semakin maju," ujarnya.

Wakil ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) TPST 3R Mulyoagung Bersatu, sekaligus sebagai narasumber Nugraha Wijayanto, mengatakan bahwa pengelolaan sampah tidak dapat dibebankan kepada pemerintah atau pengelola TPS 3R semata.

"Pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama. Semua harus dimulai dari niat yang tulus untuk menjaga lingkungan," katanya.

Dalam pemaparannya, Nugraha menjelaskan aspek operasional pengelolaan TPS 3R, mulai dari pemeliharaan sarana, sistem pengumpulan sampah dari masyarakat, mekanisme pengangkutan, hingga pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumber.

”Keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga komitmen masyarakat serta kelembagaan yang kuat, sehingga apa yang divisikan bisa terwujud,” tandasnya.

Selain pemaparan materi dan diskusi di ruangan, peserta juga diajak melihat langsung aktivitas pemilahan di TPS yang sudah mengelola rata-rata 40 ton sampah setiap hari itu. Para peserta ditunjukkan alur pemrosesan, kelemahan kelebihan alat, pemanfaatan sampah organik melalui magot, hingga pembuatan sabun.

TPST 3R Mulyoagung mempekerjakan lebih dari 50 pekerja dan menghasilkan hampir Rp200 juta setiap bulannya. Pendapatan diperoleh dari retribusi, penjualan sampah, hingga pengolahan sampah organik. Mereka menyelesaikan pemilahan mulai jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Hanya sekitar 14% yang tersisa jadi residu yang dibawa ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kabupaten Malang.

Perwakilan Alas Institute sebagai mitra ExxonMobil, Achmad Danial Abidin, mengapresiasi semangat para peserta dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Ia berharap kolaborasi yang telah terbangun dapat terus diperkuat guna menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan di Bojonegoro.

Studi tiru berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta aktif menggali pengalaman mengenai tata kelola operasional TPS 3R, pembiayaan, strategi meningkatkan partisipasi masyarakat, hingga pengembangan kelembagaan pengelola sampah.

Kegiatan ini menjadi simbol penguatan jejaring antarkomunitas sekaligus komitmen bersama untuk terus membangun kolaborasi dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan lingkungan yang lebih bersih.

·         Penulis         Rinna H.

·         Editor            Moh. Junni.