Wisata Petik Anggur Rasa Bubble Gum di Ngasem Menarik Pengunjung
malawapati.com - Wisata petik anggur di Bojonegoro terdapat disejumlah lokasi dengan berbagai varian jenis. Namun untuk di Desa Bandungrejo Kecamatan Ngasem, Bojonegoro beda dari lainnya.
Disini, pengunjung tertarik pada anggur jenis Jupiter karena rasanya lebih sensasi seperti permen bubble gum. Junaidi, Pengelola Kebun Anggur Desa Bandungrejo, ditemui malawapati.com, Minggu sore (14/12), mengatakan bahwa ia menggeluti kebun anggur ini baru berjalan satu tahun. Saat memulai tanam buah anggur mulanya menemui sejumlah kendala. Namun dengan budidaya menggunakan green house ada 6 jenis anggur yang ditanam berhasil dipanen.
“Ini sudah berjalan satu tahun. Semua tanaman itu pasti menemui kendala, namun menggunakan metode green house ini bisa minimalisir HTT dan OP-TT,” jelasnya.
Ia mengatakan bisa dibilang budidaya anggur di greenhouse sangat berhasil karena dengan menggunakan metode ini, bisa mengontrol iklim, melindungi dari cuaca ekstrem & hama, sehingga menghasilkan buah berkualitas tinggi dengan rasa manis, dan bentuknya dengan kualitas setara anggur impor. Bahkan bisa panen stabil sepanjang tahun.
“Ini pembuahan pertama, menurut saya ini sudah bagus hasilnya,”tambahnya.
Diperkirakan setiap pohon anggur akan menghasilkan 20 kilogram per pohon. Pohon anggur ini sebanayka 200 pohon dan pembuahannya berkala dengan 5 gelombang. Ada 6 jenis varian anggur yang ditanam meliputi jenis Everest, banana (Anggur Pisang), Julian hijau (Green Julian), Jupite , dan Cerney Special (atau Ninel/Nizina).
Dari jenis varian tersebut paling diminati oleh pengunjung adalah anggur jenis Jupiter karena rasanya bisa seperti permen karet (Rasa Bubble Gum).
“Paling favorit pengunjung menyukai anggur jenis Jupiter, dan Everest. Kalau Jupiter bentuknya memang tidak besar rasanya seperti kita makan permen karet. Sedangkan jenis Everest bentuknya lebih besar dengan manisnya renyah atau meledak begitu,” ujarnya.
Anggur asal Desa Bandungrejo, Ngasem ini dibandingkan dengan anggur import, Junaidi mengungkap bahwa rasanya beda jauh. Anggur import dibutuhkan pengawetan hingga sampai ke Indonesia, sementara anggur dikebunnya lebih fresh dan penanamannya dengan media tanah kombinasi dengan pemupukan organik.
“Kalau ditoko import buahnya. Jika kami import pohonnya kita tanam. Dan hasilnya bisa petik langsung dan dimakan. Pasti beda,” tandasnya.
Pengunjung bisa memilih sepuasnya semua varian anggur yang ingin dinikmati, cukup dengan harga 100 ribu rupiah per kilogram bisa petik langsung.
Sementara Sri Utami, berasal dari Pati Jawa Tengah rela berkunjung jauh untuk mengobati rasa penasaran anggur rasa permen karet. Ia datang bersama keluarganya berwisata petik anggur.
“Kemarin lihat diinternet, terus membaca bahwa disini banyak varian anggu8r. dan ternyata benar banyak variannya dan dicoba semuanya. Paling suka pada bubble gum, rasanya unik seperti bery-berry-an gitu,” ucapnya.
Ia juga sebutkan bahwa buah bery dimall mahal, makai a lebih memilih berkunjung ke Wisata Petik Anggur di Desa Bandungrejo Kecamatan Ngasem rasanya sudah seperti makan buah berry dan harganya lebih murah.
Utami panggilan akrabnya menambahkan dengan mengajak keluarga terutama anak, di tempat petik buah anggur disini bisa menjadi sarana edukasi anaknya.
· Penulis : Rinna H.
· Editor : Moh. Junni