Malawapati

Terlalu Banyak Bekerja? Inilah Dampaknya bagi Kesehatan

Malawapati MalawapatiKesehatan
Terlalu Banyak Bekerja? Inilah Dampaknya bagi KesehatanIlustrasi: Terlalu Banyak Bekerja-PicLumens

Bekerja melebihi batas kemampuan dapat meningkatkan penyakit dan kecelakaan yang berkaitan dengan kesejahteraan fisik dan mental.

malawapati.com - Penelitian menunjukkan bahwa bekerja lebih dari 55 jam seminggu dapat berdampak negatif pada kesehatan — dan itu tidak mengherankan. Ketika kita mengorbankan kesehatan dan tanggung jawab pribadi kita karena terlalu banyak bekerja, kita kehilangan lebih dari sekadar waktu dan energi. Hubungan kita bisa menjadi tegang, kesehatan mental kita bisa terganggu, dan tubuh kita bisa kewalahan oleh stres.

Psikolog Adam Borland, PsyD, membahas tanda-tanda peringatan terlalu banyak bekerja dan mengapa hal itu sangat membebani tubuh kita, dirangkum dari laman Cleavelandclinic.

Apa artinya terlalu banyak bekerja?

Terlalu banyak bekerja menggambarkan pengalaman bekerja melebihi batas kemampuan. Kita bekerja terlalu keras, terlalu lama, dan terlalu sering. Akibatnya, mengalami kerusakan fisik dan mental yang dapat menyebabkan kelelahan dan keletihan.

Terlalu banyak bekerja bersifat subjektif. Artinya, kita dapat mengalaminya dengan berbagai cara.

Bagi karyawan penuh waktu, bekerja terlalu keras bisa berarti kita bekerja jauh melebihi apa yang kita sepakati atau apa yang diharapkan dari kita. Akibatnya, kita mungkin mengorbankan malam dan akhir pekan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Bagi yang lain, seperti pekerja paruh waktu, pekerja shift, dan orang yang bekerja di beberapa pekerjaan, bekerja terlalu keras bisa berarti kita memikul terlalu banyak tanggung jawab dan hal itu berdampak buruk pada kesehatan secara keseluruhan.

Kita juga bisa bekerja terlalu keras di sekolah atau di rumah jika investasi mental dan fisik kita di bidang-bidang ini melebihi apa yang sehat bagi kita.

“Penting untuk mencoba menjaga keseimbangan hidup-kerja yang sehat. Tetapi ini seringkali lebih mudah diucapkan daripada dilakukan,” kata Dr. Borland. “Jika tuntutan pekerjaan kita berdampak negatif pada kehidupan, baik di dalam maupun di luar lingkungan kerja, mungkin perlu mengevaluasi mengapa hal itu terjadi dan perubahan apa yang dapat dilakukan.”

Tanda-tanda kita mungkin bekerja terlalu keras

Keseimbangan kerja-hidup yang tidak sehat memengaruhi orang dalam berbagai cara. Jika kita mengorbankan perawatan diri, waktu istirahat, dan tanggung jawab lain yang kita miliki untuk kesehatan pribadi demi bekerja terlalu keras, kita mungkin akan melihat tanda-tanda berikut:

·         Peningkatan stres dan kecemasan

·         Kurangnya motivasi atau minat pada aktivitas yang Anda nikmati di tempat kerja dan di rumah

·         Burnout

·         Produktivitas rendah

·         Hubungan yang tegang, baik pribadi maupun profesional

·         Kesulitan menjalin hubungan dengan orang lain

·         Kesulitan meninggalkan pekerjaan dan stres terkait pekerjaan

·         Kesulitan tidur

·         Kelelahan terus-menerus

“Mungkin ada ekspektasi untuk melakukan lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit, yang dapat mengakibatkan karyawan mengalami peningkatan stres, kecemasan, tekanan, dan potensi burnout,” kata Dr. Borland.

Dampak kesehatan akibat bekerja terlalu keras

Ketika bekerja terlalu keras, kita mendorong pikiran dan tubuh melewati batasnya. Bekerja terlalu keras terlalu lama dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental. Akibatnya, kita mungkin mengalami peningkatan risiko:

·         Infeksi dan penyakit yang sering terjadi

·         Sistem kekebalan tubuh yang melemah

·         Masalah kesehatan mental, seperti depresi

·         Gangguan kognitif, seperti kabut otak

·         Masalah kardiovaskular, seperti tekanan darah tinggi atau jantung berdebar

·         Gangguan tidur

·         Perubahan berat badan, nafsu makan, dan kebiasaan makan

·         Cedera dan kecelakaan

·         Penyalahgunaan alkohol dan zat adiktif

“Sebuah mobil tidak akan berfungsi optimal ketika tangki bensinnya kosong,” ilustrasi Dr. Borland. “Demikian pula, kesehatan kita terganggu ketika cadangan fisik dan emosional kita habis.”

Kapan harus mencari bantuan

Jika keadaan tidak membaik setelah kita mencoba menetapkan batasan yang sehat dan memberi ruang untuk perawatan diri, kita mungkin berurusan dengan lingkungan kerja yang beracun. Dalam kasus ini, akan sangat membantu untuk bekerja sama dengan terapis atau pelatih kesehatan perilaku yang dapat membimbing kita tentang cara mengelola konflik ini.

Dalam terapi, kita dapat belajar bagaimana menemukan solusi yang sehat ketika beban kerja Anda menjadi berlebihan. Kita bahkan mungkin menemukan jalan keluar untuk beberapa tugas yang paling sepele.

“Tidak jarang perawatan diri disalahartikan sebagai tindakan egois,” demikian pemahaman Dr. Borland. “Kita perlu mengubah pola pikir tersebut. Saya mendorong pasien saya untuk meluangkan waktu untuk perawatan diri setiap hari, dengan tujuan memprioritaskan kesejahteraan emosional dan fisik.”

·         Editor   : Moh. Junni