Ruwat Karso Budaya Kusuma Nusantara: Jaga Pikiran Agar Tidak Salah Bertindak
Lensa+, malawapati.com
Ngrekso wiwitaning karso, prihtan lepating laku. Maksudnya, menjaga asal mula Pikiran, agar tidak salah bertindak. Kalimat di atas, disampaikan oleh Heri Suyoko, Ketua Umum Budaya Kusuma Nusantara (BKN), saat memberikan sambutan di acara petemon luhur, di bulan Suro tahun 1448 hijriyah, yang bertepatan hari sabtu malam, tanggal 4 Juli 2026. Ruwat Karso ini, bertempat di Desa Ngorogunung, Kecamatan Bubulan, Bojonegoro.
Menurut Heri Suyoko, petikan kalimat jawa di atas termasuk salah satu ajaran luhur Budaya Kusuma Nusantara. Ajaran lainnya, becik ngruwat sesangkane lelaku, tinimbang anglampahi sangkan kang luput. Artinya, lebih baik menjaga asal mula, daripada memperbaiki akibat yang salah.
Bagi Budaya Kusuma Nusantara, ruwat karso selalu diadakan setiap tahun, tepatnya di bulan asyuro. Ruwat Karso sendiri, mengandung makna menyempurnakan, menjaga (ngrekso), menjaga diri, membersihkan diri dari segala hal tindakan, agar tetap terjaga dengan baik. Dan, menjaga kehendak melepaskan keburukan, adalah ibadah.
Jadi, bagi Budaya Kusuma Nusantara, Ruwat Karso tidak sekedar pertunjukan seni semata, melainkan sebuah budaya sarana do'a dan merenung. Meski, pada acara ruwat karso tahun ini juga ada pertunjukan seni wayang kulit, dengan lakon "Semar Mbangun Kayangan" yang dimainkan ki dalang Bimo Anggoro.
Acara ritual Ruwat Karso dipimpin langsung Ketua Umum BKN, Heri Suyoko. Berbagai alat ritual pun dipersiakan. Antara lain sejumlah nasi kuning yang ditaruh di belanga dari tanah, lengkap dengan engkung. Gunungan berbagai hasil pertanian dan berbagai jajanan khas Jawa melengkapi prosesi ruwatan.
Suasana mistis makin terasa, ketika dupa dibakar oleh sesepuh desa. Penyiraman air yang dianghap suci oleh sesepuh adat, mengakhiri prosesi ritual Ruwat Karso. Seribuan orang pun hadir menyaksikan ritual ruwat karso, dilanjut menyaksikan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.
Sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan lembaga terkait lainnya, juga hadir. Seperti Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kiyai Haji Allamul Huda, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Hanafi, serta Kapolres Bojonegoro AKBP Afrian Satya Permadi. Tampak hadir, administratur (ADM) Perhutani KPH Bojonegoro, Slamet Juwanto, Camat Bubulan dan sejumlah kepala desa. Turtut hadir pula, Kapolresta Karawang Kombes Pol Mario Prahatinto, yang juga mantan Kapolres Bojonegoro.
Sementara, Ketua Budaya Kusuma Nusantara Bojonegoro, Lulus Setiawan, SH. mengatakan, budaya nusantara mengandung nilai-nilai universal yang dianut bersama di Indonesia ini. Antara lain, berdasarkan agama, Indonesia merupakan rumah bagi semua agama. Yakni Islam, Kristen, Hindu, Buda, Katolik dan Konghucu. Menurut Lulus, kita harus menghargai setiap agama tanpa memihak, karena semuanya membawa pesan kebaikan. Sementara, berdasarkan kebangsaan, Indonesia menjunjung tinggi prinsip Bheneka Tunggal Ika.
Selaras dengan Ketua Umum BKN pusat, Heri Suyoko, Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah menyampaikan, bahwa penting sekali adanya ruwat Karso ini. Nurul menilai, ruwat karso atao ngruwat sasi Suro, termasuk uri-uri budaya Jawa.
Dari kalangan ulama, Ketua MUI Bojonegoro Kyai Haji Allamul Huda mengatakan, acara seperti ini penting dilakukan, karena tujuannya ngruwat tingkah laku manusia untuk lebih baik.
Lensa+, malawapati.com :
· Penanggung-jawab : Alkham M. Ubey
· Redaktur Pelaksana : Rinna H.
· Producer : Edds
· Video : Alkham M. Ubey
· Video Editor : Moh. Junni
· Naskah : Alkham M. Ubey
· Song : Spark of inspiration by : Shane Ivers