Malawapati

Oklik di Bojonegoro Hampir Punah, Komisi C DPRD Bojonegoro Dukung Pelestarianya di Festival Ramadan 1447 H

Malawapati MalawapatiSeni & Budaya
Oklik di Bojonegoro Hampir Punah, Komisi C DPRD Bojonegoro Dukung Pelestarianya di Festival Ramadan 1447 HAnggota Komisi C DPDR Bojonegoro saat ikuserta dalam technical meeting di Dispudpar Bojonegoro, Kamis (12/3). Foto : Kang Djok/ Rinna H.

malawapati.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melalui  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro menggelar Parade Oklik dalam tajuk event Festival Ramadan Bojonegoro 2026 pada Kamis (19/3) pukul 19.00 WIB, di Jalan Mas Tumapel Depan Pendopo Malowopati.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu agenda tahunan dalam memeriahkan bulan suci Ramadan sekaligus melestarikan kesenian tradisional khas daerah tersebut.

Kepala Sekretaris Disbudpar Kabupaten Bojonegoro Lukiswati didampingi Kepala Bidang Kebudayaan, Dheny Ike Kirmayanti, Kamis (12/3), menjelaskan bahwa parade oklik merupakan upaya pemerintah daerah untuk menjaga dan mengembangkan seni budaya lokal agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Parade oklik ini tidak hanya untuk memeriahkan Ramadan, tetapi juga menjadi wadah bagi para seniman dan komunitas untuk mengekspresikan kreativitasnya sekaligus melestarikan kesenian tradisional Bojonegoro.

"Rute parade dimulai dari Jalan P. Mas Tumapel (start), kemudian melewati Jalan Imam Bonjol, Jalan Mastrip, Jalan MH Thamrin, Jalan Panglima Sudirman hingga kembali finish di Jalan P. Mas Tumapel," ujarnya.

Parade oklik terbuka bagi kelompok seni, komunitas, pelajar, mahasiswa maupun masyarakat umum dari dalam maupun luar Kabupaten Bojonegoro. Setiap kelompok terdiri dari 10 hingga 20 orang yang dapat beranggotakan laki-laki, perempuan, maupun gabungan keduanya.

Dalam penampilannya, peserta diwajibkan memainkan alat musik oklik yang didominasi bambu dengan komposisi minimal 60 persen serta membawakan lagu bernuansa religi. Lagu wajib yang harus dimainkan adalah “Ramadan Tiba” dengan aransemen kreatif dari masing-masing kelompok.

Foto bersama peserta Pawai Obor sekolah dari berbagai lembaga sekolah di Bojonegoro, Dispudpar Bojonegoro, Anggota DPRD Bojonegoro dan Aura Global Promotama.
Foto bersama peserta Pawai Obor sekolah dari berbagai lembaga sekolah di Bojonegoro, Dispudpar Bojonegoro, Anggota DPRD Bojonegoro dan Aura Global Promotama.

Kini oklik resmi diakui Hak Ciptanya sebagai Kekayaan Intelektual Komunal Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) oleh Kementerian Hukum dan HAM sejak Agustus 2025. Pengakuan tersebut menambah daftar karya dan kerajinan asli Bojonegoro yang terdaftar Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

“Minat peserta oklik semakin turun jumlahnya. Hal itu menjadi keprihatian semua pihak. Untuk itu, kami mendorong para peserta dari berbagai wilayah di Kecamatan maupun luar daerah Bojonegoro untuk ikut menjadi peserta dalam event tahunan ini,” terangnya.

Selain parade oklik, kali ini dalam satu rangkain event yang direncana selama 3 hari ini, 18 -20 Maret 2026, terdapat pertunjukkan lomba fashion show busana muslim dan pada malamnya, Rabu (18/3), akan dilaunching kalender event untuk seluruh kegiatan Pemkab maupun pada kegiatan komunitas dan masyarakat. Kemudian berikutnya, hari kedua, Kamis (19/3), diisi dengan lomba mewarnai yang dilanjutkan pada malam hari parade oklik. Kemudian hari ketiga, dipuncak kegiatan Festival rRamadan 1447 H/ Tahun 2026,  akan digelar Rampak bedug dan pawai obor sewu.

Sementara itu, anggota Komisi C DPRD  Diana Hargianti mengungkapkan persoalan yang dihadapi Disbudpar terungkap, mulai dari kelayakan gedung yang dinilai kurang layak dan dibutuhkan perbaikan untuk mewadahi seniman, budaya, wisata dan pelaku ekraf.

“Berkat obrolan tadi,  terungkap berbagai persoalan kompleks terkait seni dan budaya yang harus dicarikan solusi bersama. Ini jadi tugas kita bersama, saya juga pernah sekolah mengenal kurikulum kesenian diajari menari. Dan lagi agenda hari ini rapat koordinasi technical meeting tentang oklik dan obor sewu. Dulu itu pesertanya mencapai 39, sekarang baru mendaftar 14 kelompok, Nah jumlah ini miris pak. Sebenarnya apa yang terjadi di Bojonegoro? ada persoalan apa yang sebabkan kondisi seperti ini,” tanyanya dalam diskusi tersebut.

Ia berharap pelestarian ini menjadi tugas utama bersama. Sebagai anggota Komisi C yang membidangi kesenian dan budaya menekan bahwa inovasi masukan inovasi harus dari Disbudpar.

Pada prinsipnya, pihak anggota Komisi C mengapresiasi dan mendukung kegiatan Festival Ramadan termasuk diperlukan kesiapan pawai budaya.

“Kalau bisa event -event seperti ini termasuk pawai budaya tidak dibahas secara mendadak. Pembahasan dibutuhkan lintas OPD yakni Dinas Pendidikan dan tidak bisa dilakukan mendadak,” ucapnya.

Sejumlah peserta para guru pendidik berkeluh dengan banyaknya kegiatan, akan menambah beban sekolah karena akan berbenturan dengan wali murid.

Choirul Anam, Anggota Komisi C DPRD Bojonegoro menambahkan bahwa dalam memahami persoalan yang muncul saat ini terkait pelestarian kesenian dan budaya di Bojonegoro terutama oklik. Kendala yang dihadapi oleh Disbudpar semestinya perlu pembahasan detail.

Choirul Anam, anggota Komisi C memberikan tanggapan terkait keluhan para peserta dalam giat TM di Dispudpar Bojonegoro, Kamis (12/3). Foto : KD/ Rinna H.
Choirul Anam, anggota Komisi C memberikan tanggapan terkait keluhan para peserta dalam giat TM di Dispudpar Bojonegoro, Kamis (12/3). Foto : KD/ Rinna H.

Bojonegoro memiliki 8 Warisan Budaya TakBerbenda diantaranya oklik. “Saya ingat dulu yangs ering ikut menjadi peserta lomba dan waktu itu animonya luar biasa, dari tingkat kecamatan dilaksanakan secara bertahap , tidak langsung ke Kabupaten seperti bisa menjadi berat,” tandasnya.

Diakui pelestarian seni dan budaya tidak mudah dan sangat berat terutama properti yang nilainya tidak murah serta kesadaran masyarakat mikut merawatnya. Kedepan, dari Disbudpar agar melakukan koordinasi dengan OPD terkait Dan dibahas bersama DPRD untuk mendapatkan solusi.

ia juga menceritakan yang dialaminya bahwa oklik dulu setiap lingkungan ramai dengan tabuhan khasnya, kini perilaku generasi berubah dengan membawa sound horeg yang bukan budaya Bojonegoro. untuk itu, DPRD mendukung kegiatan event pelestarian seni budaya yang dilaksanakan Disbudpar.

“Oklik ini akan menjadi daya tarik lebih sehingga luar daerah bisa berdatangan ke Bojonegoro,” tandasnya.

Selain itu, kegiatan parade oklik ini telah memberikan dampak positif bagi sektor ekonomi kreatif dan UMKM yang dapat berjualan di sekitar lokasi acara. 

Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyiapkan hadiah pembinaan bagi para pemenang, yakni juara pertama sebesar Rp2,5 juta, juara kedua Rp2,25 juta, dan juara ketiga Rp2 juta, serta hadiah bagi juara harapan. Pendaftaran kegiatan ini tidak dipungut biaya alias gratis.

·         Penulis         : Rinna H.

·         Editor            : Moh. Junni