Malawapati

Mitos dan Fakta tentang Artritis

Malawapati MalawapatiKesehatan
Mitos dan Fakta tentang ArtritisSeseorang dengan Atritis-PicLumen

malawapati.com - Arthritis atau radang sendi adalah kondisi peradangan pada satu atau lebih sendi, ditandai dengan nyeri, bengkak, kaku, dan penurunan rentang gerak. Penyakit ini umumnya menyerang sendi yang menopang beban, seperti lutut dan pinggul, serta bisa membatasi mobilitas. Penyebabnya bervariasi, paling sering karena kerusakan tulang rawan (osteoartritis), autoimun (rheumatoid arthritis), atau penumpukan asam urat.

Apakah dengan membunyikan persendian jari akan menyebabkan artritis? Atau bahwa makan tomat memperburuk artritis? Yakin hanya orang dewasa yang lebih tua yang terkena artritis? Baca terus untuk mempelajari kebenaran tentang mitos-mitos umum ini dan lainnya tentang artritis dilansir Brownhealth.

Mitos #1: Artritis hanya masalah bagi orang dewasa yang lebih tua.

Fakta: Ini adalah persepsi umum, tetapi jauh dari akurat. Artritis dapat dan memang memengaruhi orang dari segala usia, dari anak-anak hingga orang dewasa. Misalnya, JIA (Juvenile Idiopathic Arthritis) memengaruhi anak-anak di bawah usia 16 tahun. Selama 2017-2021, diperkirakan 220.000 anak dan remaja AS di bawah usia 18 tahun menderita artritis, yang berarti sekitar 305 anak untuk setiap 100.000 anak.

Artritis Reumatoid (RA), yang merupakan jenis artritis inflamasi yang paling umum, dapat memengaruhi orang dewasa muda dan yang lebih tua. Menariknya, RA mungkin lebih parah ketika muncul pada orang dewasa muda. Artritis pada orang dewasa muda dapat memengaruhi pendidikan, pertumbuhan karier dan pekerjaan, bahkan perencanaan keluarga.

Mitos #2: Artritis hanyalah keausan pada persendian.

Fakta: Ini hanya sebagian benar untuk osteoartritis, yang merupakan jenis artritis paling umum secara keseluruhan. Meskipun usia dan tekanan mekanis dapat berkontribusi, perkembangan osteoartritis juga bergantung pada cedera sebelumnya, genetika, penggunaan sendi yang berulang, dan obesitas, serta peradangan. Studi telah menunjukkan bahwa peradangan tingkat rendah memainkan peran penting dalam perkembangan dan progresi osteoartritis.

Selain itu, jenis artritis lainnya, seperti RA atau Artritis Psoriatik, tidak disebabkan oleh keausan, tetapi merupakan hasil dari sistem kekebalan tubuh yang menyerang lapisan sendi yang menyebabkan peradangan sendi dan kerusakan sendi.

Mitos #3: Semua nyeri sendi adalah artritis.

Fakta: Tidak semua nyeri sendi disebabkan oleh artritis. Meskipun artritis adalah penyebab umum, nyeri sendi (juga dikenal sebagai artralgia) dapat disebabkan oleh berbagai kondisi dan faktor lain seperti cedera (keseleo, dislokasi, patah tulang), bursitis (peradangan kantung berisi cairan di sekitar sendi), dan peradangan tendon. Penyebab umum nyeri sendi lainnya bisa berupa penyakit virus dan bakteri seperti chikungunya, parvovirus, dan banyak lainnya. Selain itu, kanker tulang, hipermobilitas, krisis sel sabit, dan fibromyalgia dapat menyebabkan nyeri sendi.

Mitos #4: Olahraga dan gerakan dapat memperburuk artritis.

Fakta: Ini sama sekali tidak benar. Aktivitas fisik teratur, yang disesuaikan dengan kemampuan seseorang, adalah salah satu cara paling efektif untuk mengelola gejala artritis dan meningkatkan kesehatan sendi.

Meskipun olahraga bermanfaat, olahraga harus disesuaikan dengan kebutuhan individu. Berlebihan atau menggunakan teknik yang buruk dapat menyebabkan cedera, jadi penting untuk menghindari aktivitas berdampak tinggi atau stres berulang dan fokus pada olahraga yang ramah sendi seperti berenang, bersepeda, atau berjalan kaki.

Hal-hal yang perlu diingat saat berolahraga dengan radang sendi:

·         Dengarkan tubuh Anda: Ketidaknyamanan ringan selama berolahraga adalah hal biasa, tetapi jika Anda mengalami nyeri sendi sedang hingga parah, hentikan dan konsultasikan dengan penyedia layanan kesehatan. Nyeri yang terus-menerus atau parah mungkin menunjukkan peradangan atau kerusakan sendi yang membutuhkan perhatian medis.

·         Istirahat selama kambuh: Selama periode peradangan hebat (kambuh), sebaiknya istirahatkan sendi yang terkena, tetapi latihan rentang gerak ringan seringkali masih dapat dilakukan dengan aman.

Mitos #5: Tomat dapat menyebabkan kambuh radang sendi.

Fakta: Tidak ada hubungan langsung yang ditemukan antara tomat dan kambuh radang sendi. Hal yang sama berlaku untuk sayuran nightshade lainnya. Bahkan, tomat kaya akan antioksidan yang seharusnya membantu mengurangi peradangan dan mendukung kesehatan secara keseluruhan. Ada beberapa penelitian yang meneliti asupan tomat dan penanda darah untuk peradangan dan tidak ada peningkatan penanda inflamasi.

Mitos #6: Perubahan cuaca dapat memperburuk radang sendi.

Fakta: Perubahan cuaca dapat memperburuk gejala radang sendi bagi sebagian orang, tetapi hubungannya kompleks dan bervariasi antar individu.

Kelembapan dan tekanan barometrik pada artritis

Beberapa studi dan tinjauan telah menemukan bahwa kelembapan yang lebih tinggi dan perubahan tekanan barometrik dikaitkan dengan peningkatan nyeri dan kekakuan artritis, terutama pada cuaca dingin.

Suhu dan artritis

Cuaca dingin dapat meningkatkan kekentalan cairan sendi, membuat sendi terasa lebih kaku dan tidak nyaman. Dalam beberapa kasus, bahkan kecepatan angin yang lebih tinggi dapat mengakibatkan peningkatan nyeri sendi pada penderita artritis. Namun, ini tidak berlaku untuk semua orang dan tidak dapat digeneralisasikan.

Mitos #7: Glukosamin, kondroitin, dan suplemen lainnya dapat menyembuhkan artritis.

Fakta: Glukosamin dan kondroitin, yang keduanya merupakan komponen alami tulang rawan, tidak menyembuhkan artritis jika dikonsumsi sebagai suplemen. Penelitian ekstensif—termasuk uji klinis besar yang dirancang dengan baik dan tinjauan sistematis—menunjukkan bahwa suplemen ini dapat memberikan sedikit peredaan gejala bagi sebagian penderita osteoartritis (OA), terutama mereka yang mengalami nyeri lutut sedang hingga berat, tetapi suplemen ini tidak membalikkan atau menyembuhkan penyakit tersebut. Tidak ada data yang mendukung bahwa suplemen ini dapat menyembuhkan artritis.

·         Editor: Moh. Junni