Malawapati

Harga Telur Anjlok, Pengepul Telur Gayatri di Bojonegoro Berkeluh Berharap Pemkab Bangun Pabrik Tepung Telur

Malawapati MalawapatiPeristiwa
Harga Telur Anjlok, Pengepul Telur Gayatri di Bojonegoro Berkeluh Berharap Pemkab Bangun Pabrik Tepung TelurJoko Suhono, pengepul telur Gayatri asal kepohbaru. Foto : dok./ Rinna H.

malawapati.com - Dengan anjloknya harga telur beberapa hari ini, berdampak tidak hanya peternak Keluarga Penerima Manfaat (KPM), namun juga para pengepul telur program GAYATRI (Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri) di Kabupaten Bojonegoro. Mereka mengaku terancam rugi jutaan rupiah jika harga telur tidak stabil kembali.

Joko Suhono, (59), pengepul telur GAYATRI asal Kecamatan Kepohbaru pada malawapati.com, Kamis (2/7), mengungkapkan kegelisahannya terhadap dampak anjloknya harga telur dipasaran.

Ia katakan bahwa jika harga telur terus merosot sehingga antara pakan dan produksi telur tidak BEP (Break Even Point).

“Menjadi pengepul telur GAYATRI mulai program berjalan untuk membantu para KPM bisa menjual produksi telurnya,” ungkapnya.

Ia menceritakan sebagai pengepul telur GAYATRI karena menjadi pendamping program tersebut di wilayah Kecamatan Kepohbaru, termasuk menyediakan pakan yang mudah dijangkau para KPM.

“Kita melakukan pendampingan bagaimana ternak ayam petelur dan manajemennya. Sehingga para KPM bisa berternak dan menikmati hasilnya,” imbuhnya.

Melihat kondisi harga telur beberapa hari ini terus menurun berimbas juga pada peternak telur program Gayatri menjadi resah. Apalagi harga telur disentralnya Blitar dibawah telur Gayatri. Harga telur di Blitar sempat camapi 17 ribu-an per kilogram (kg), sedangkan telur gayatri terbeli 20 ribu per kg.

”Ini bukan soal harga anjlok namun daya serapannya sangat rendah. Ini stok telur Gayatri ditempat saya masih ada 7 kwintal selama sepekan, padahal biasanya beberapa hari sudah habis,”ujarnya.

Pada hari ini, Kamis (2/7), harga telur mulai merangkak naik mencapai 23 ribu per kg. Meski naik daya serapan atau permintaan pasar masih rendah. Hal ini membuat pengepul dan peternak was-was khawatir merugi.

Pelanggan telurnya yang berasal dari Lamongan, Surabaya dan lainnya belum melakukan permintaan sama sekali hingga hari ini, mereka memilih ambil ke Blitar lebih murah.

”Para KPM biasanya ada yang barter dengan pakan. Namun saya tidak mau rugi, jika di Blitar hingga Rp. 18.500,- , saya membeli peternak Gayatri Rp 20.000,- per kg,” ungkapnya.

Joko juga menuturkan terkait surat edaran (SE) Bupati terkait ASN lingkup Pemkab diwajibkan membeli telur Gayatri 2 kg per bulan bahwa hal itu dinilai dilapangan belum berjalan maksimal. Termasuk dapur SPPG yang ada di Bojonegoro juga belum upaya membantu penyerapan.

“Sempat diagendakan Dapur SPPG saat rapat, namun hingga saat ini belum ada tindaklanjutnya,” ucapnya.

Ia bersama KPM di Kepohbaru berharap Pemkab Bojonegoro memberikan solusi ke hilir. Meskipun ada rencana pembuatan pabrik pakan hal itu akan muncul kembali persoalan serapan telur.

“ Di Blitar berdiri pabrik tepung telur bernama PT Sinergi Pangan Mandiri (SIPAMAN). Pabrik ini adalah usaha milik Koperasi Putra Blitar. SIPAMAN membuat tepung dari telur asli untuk membantu peternak lokal. Mereka menghasilkan tepung telur utuh, tepung kuning telur, dan tepung putih telur,” pungkasnya.

Profil Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro, Elfia Nuraini. Foto : Rinna H.
Profil Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro, Elfia Nuraini. Foto : Rinna H.

Sementara Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro, Elfia Nuraini, saat dikonfirmasi terkait harga telur ajlok tidak memungkiri berdampak pada peternak ayam petelur program Gayatri.

Meski demikian, pihaknya masih melakukan upaya untuk membantu mencari solusi dengan adanya SE Bupati untuk ASN yang diwajibkan membeli telur 2 kg dalam 1 bulan.

”Terkait harapan adanya pabrik tepung. Hal itu butuh kajian mendalam. Kondisi peternakan Bojonegoro berbeda. Untuk membuat pabrik itu penyediaan stok juga harus terpenuhi,” ujarnya.

Saat ini kebutuhan telur di Bojonegoro masih belum tercukupi dengan adanya program gayatri.

“Dulu sebelum program Gayatri kebutuhan 10 ton telur per tahun diambil dari luar daerah. Kini alhamdulillah hampir separo sudah tercukupi dari telur Gayatri,” ungkapnya.

Kondisi harga telur saat ini secara nasioanal mengalami penurunan, namun hari ini harga telur mulai merangkak naik mencapai 23 ribu per kg.

“Saat ini masih melakukan upaya dengan dapur SPPG untuk bisa bekerjasama melakukan penyerapan telur Gayatri,” tutupnya.

·         Penulis         Rinna H.

·         Editor            Moh. Junni.