DKKP Bojonegoro Sukses Panen Varietas Padi Unggul ‘Gamagora 7’ 11,4 Ton Per 1 ha di Kepohbaru
malawapati.com - Ditengah tantangan perubahan iklim global, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro terus berupaya meningkatkan produksi padi. Salah satunya dengan menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menghadirkan varietas padi amfibi unggul yang diberi nama Gamagora 7.
Uji demonstration plot (Demplot) budidaya padi varietas ‘Gamagora 7’ dilakukan dilahan sawah milik kelompok petani di lima kecamatan. Dari jumlah tersebut berhasil panen dengan hasil gemilang. berhasil sukses melakukan 5 kecamatan tersebut meliputi Kepohbaru, Sugihwaras, Kalitidu, Dander dan Ngasem dengan masing-masing seluas 1 hektar (ha).
Panen ketiga ini yang dilakukan kelompok tani ‘Tani Subur’diwilayah Kecamatan Kepohbaru Desa Bayemgede seluas 1 hektar (ha) yang mulai masa tanam pada 2 Desember hingga 28 Februari 2026. Dari lahan tersebut gabah kering sawah yang dihasilkan mencapai 11,4 ton.
Kepala DKKP Kabupaten Bojonegoro Zaenal Fanani, usai panen ditemui Sabtu (28/2), malawapati.com, mengatakan bahwa hari ini, Sabtu (28/2), melakukan panen padi hasil kerjasama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) Demplot budidaya padi varietas ‘Gamagora 7’ bersama Bupati dan wakil Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dan Nurul Azizah serta hadir Ketua DPRD Bojonegoro Abdulloh Umar, Dandim 0813 dan Kapolres Bojonegoro.
“Dari ketiga wilayah tersebut produksi rendah sebesar 7,6 ton dari biasanya produksi sebesar 5-6 ton tepatnya warga Desa Sendangharjo Kecamatan Ngasem. Dan hari ini panen di Desa Bayemgede Kecamatan Kepohbaru sukses hasil panenya 1 ha sebanyak 11,4 ton,” ungkapnya.
Panen di Kepohbaru sesuai dengan target tanam pada tahun 2025 deklarasi wilayah Produksi Padi 11 ton per ha -nya. Perbedaan hasil panen dengan kecamatan lainnya karena bergantung pada unsur perawatan dan kondisi tanah.
“Ini adalah sebuah terobosan sangat baik sekali untuk menjawab tantangan cuaca. Dimana tahun 2026 akan terjadi kemarau normal yang akan berpengaruh pada hasil produksi padi di Bojonegoro. Maka kami dari DKKP menjawab tantangan tersebut. Dan alhamdulillah 11,4 ton, Bapak Bupati berpesan pada kita agar padi gamagora 7 ini dikembangkan diseluruh Bojonegoro sehingga peningkatan signifikan bisa tercapai,”tunkasnya.
Sementara Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mengungkapkan apresiasi terhadap tim pangan DKKP atas keberhasilan demplot budidaya padi varietas ‘Gamagora 7’ bersama UGM sehingga produksi padi meningkat di Bojonegoro.
Potensi Bojonegoro yang bisa dikembangkan adalah pertanian dan Kesehatan. Apalagi masyarakat Bojonegoro mayoritas adalah petani sehingga menjadi skala prioritas.
“Untuk itu, air penting dikelola dengan baik, kemudian bencana hama, bibit dan peralatan pertanian. Alhamdulillah perjuangan kami, terimakasih Pak Kadinatas kerja kerasnya mampu meningkatkan produktivitas pertanian,” ujarnya.
Keterlibatan TNI-Polri penting terutama dalan penanggulangan bencana banjir. Karena dampak banjir berpengaruh yang bisa mengakibatkan gagal panen. Saat ini, pihaknya menekankan pada pengelolaan manajemen air yang tepat diantaranya dengan membangun embung dan perhatian pada distribusi air persawahan.
Bupati Wahono menceritakan awal mulanya alur cerita kerjasama dengan UGM budidaya padi varietas ‘Gamagora 7’. Dengan hasil panen kering basah disawah mencapai 11,4 ton, menurutnya adalah hasil pencapaian luar biasa.
“Adanya peningkatan hasil panen padi varietas ‘Gamagora 7’, saya meminta untuk bibit bisa disediakan. Karena padi ini akan dikembangkan keseluruh wilayah Bojonegoro. Karena kami ingin membangun kemandirian, sebisa mungkin bisa ada balai benih sendiri namun jika prosesnya panjang maka mohon petunjuk untuk mendapatkan bibit yang berkelanjutan,” tandasnya.
Bupati Wahono meminta bahwa budidaya padi varietas ‘Gamagora 7’ akan dicoba disemua wilayah untuk menemukan dimana yang paling cocok pengembangannya.
Selain itu, Bupati Wahono juga meminta kerjasama pada UGM untuk memperbaiki unsur tanah yang saat ini mengalami penurunan. Varietas padi Gamagora 7 dinilai tahan terhadap perubahan iklim diharapkan bisa berkelanjutan.
“Kami ingin jika kedepan kami tidak jadi kembali, kedepan Bojonegoro bisa terwujud berhasil menjadi swasembada pangan. Tahun 2025 kita bisa melampui Ngawi, tahun 2026 ditargetkan setidaknya produksi padi sama dengan Lamongan ,” pungkasnya.
· Penulis : Rinna H.
· Editor : Moh. Junni