Malawapati

Antusias Warga Bojonegoro Belajar Budidaya Magot dan Olah Kompos di TPS 3R Srawung Makmur Desa Trucuk

Malawapati MalawapatiLensa+
Antusias Warga Bojonegoro Belajar Budidaya Magot dan Olah Kompos di TPS 3R Srawung Makmur Desa TrucukSuasana kegiatan pelatihan Budidaya Magot dan Pengolahan Kompos di TPS 3R Srawung Makmur, Desa Trucuk, Rabu (1/7). Foto : dok./ Rinna H.

malawapati.com - Demi menjaga lingkungan bersih, warga Desa dan Pemerintah Desa Trucuk Kecamatan Trucuk, Bojonegoro, berkolaborasi dengan berbagai pihak dengan belajar ikut serta dalam Pelatihan Budidaya Magot dan Pengolahan Kompos sebagai bagian dari Gerakan Bersama Pengelolaan Sampah dan Perilaku Hidup Bersih.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di TPS 3R Srawung Makmur, Desa Trucuk, Rabu (1/7), juga untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat selain juga untuk meningkatkan kapasitas peserta dalam mengelola sampah organic. Dengan adanya pelatihan juga diharapakan menjadi wadah berbagi pengalaman untuk mendorong lahirnya sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di tingkat desa.

Peserta meliputi Kepala Desa Trucuk, pengurus bank sampah, pengelola TPS 3R, serta kelompok tani Desa Trucuk, dengan dihadiri Kepala UPT TPA Banjarsari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro, Ira Puspitasari. Turut hadir pula perwakilan ExxonMobil, Tim Alas Institute selaku mitra pelaksana program, Field Indonesia, dan Yayasan Daya Tumbuh Indonesia (YDTI).

Pelatihan menghadirkan dua narasumber petani pemandu dari Sekolah Lapangan Pertanian, Pasiran. Dia membawakan materi pengolahan kompos. Sedangkan Saiful memandu praktik budidaya magot sebagai solusi pengolahan sampah organik bernilai ekonomi.

Kepala Desa Trucuk, Sunoko, mengatakan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan ini menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah sekaligus membuka peluang ekonomi dari limbah organik.

Peserta serius mengikuti pelatihan Pelatihan Budidaya Magot dan Pengolahan Kompos. Foto : dok./ Rinna H.
Peserta serius mengikuti pelatihan Pelatihan Budidaya Magot dan Pengolahan Kompos. Foto : dok./ Rinna H.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh mitra yang telah mendukung kegiatan ini. Harapan kami, ilmu yang diperoleh peserta dapat diterapkan dan dikembangkan sehingga pengelolaan sampah di Desa Trucuk semakin baik serta memberikan manfaat bagi masyarakat," ujarnya.

Perwakilan ExxonMobil, Almaliki Ukay Sukaya Subqy, mengungkapkan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Ia berharap TPS 3R Srawung Makmur dapat terus berkembang menjadi role model pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kabupaten Bojonegoro.

 "Pengelolaan sampah tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, komunitas, dan dunia usaha. Kami berharap TPS 3R Srawung Makmur terus bertumbuh, semakin maju, dan menjadi role model nasiolan pengelolaan sampah yang mampu memberikan dampak nyata bagi lingkungan maupun perekonomian masyarakat," katanya.

 Sementara itu, Ira Puspitasari dari DLH Kabupaten Bojonegoro mengungkapkan bahwa tantangan pengelolaan sampah di Bojonegoro masih cukup besar. Saat ini, sekitar 80 hingga 90 ton sampah setiap hari masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), sehingga diperlukan upaya pengurangan sampah sejak dari sumbernya.

"Keberadaan TPS 3R sangat penting karena mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA. Pengelolaan dari sumber merupakan kunci. Bahkan di TPA sendiri, produksi kompos sudah mencapai sekitar 100 hingga 150 kilogram. Jika setiap desa mampu mengolah sampah organiknya, tentu beban TPA akan jauh berkurang," jelasnya.

 Sementara perwakilan Alas Institute, Achmad Danial Abidin, mengatakan pelatihan ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas masyarakat. Menurutnya, pengelolaan sampah tidak hanya berorientasi pada aspek lingkungan, tetapi juga memiliki potensi ekonomi melalui produksi kompos dan budidaya magot.

 Melalui pelatihan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh materi teori, tetapi juga praktik langsung mengenai teknik pembuatan kompos dan budidaya magot, mulai dari persiapan media, pemeliharaan, hingga pemanfaatan hasilnya.

 Diharapkan, TPS 3R Srawung Makmur tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengolahan sampah, tetapi juga berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan yang mampu menginspirasi desa-desa lain dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan.

·         Penulis         Rinna H.

·         Editor            Moh. Junni.